Sisi News

Beberapa waktu lalu, viral video TikTok yang menjelaskan larangan minum setelah makan. Namun, apakah hal tersebut benar?

Akun TikTok vitamindiskon baru-baru ini ramai dibicarakan dikalangan warganet. Hal tersebut lantaran video terbaru milik mereka menjelaskan apa yang terjadi pada tubuh apabila minum setelah makan.

Dalam video tersebut dijelaskan, “ Karena, ketika kalian minum sehabis makan akan berdampak negatif ke pencernaan kalian, seperti : 1. akibatnya makanan tidak dapat di cerna dengan baik, karena glukosa didalam makan akan menjadi lemak dan dapat memicu kadar insulin, 2. dapat memicu asam lambung, 3. kandungan gizi  dalam makanan tidak di serap dengan sempurna.”

Lantas bagaimana ya penjelasan ilmiah tentang hal tesebut?

Penjelasan Minum Setelah Makan Menurut Dokter

Mengutip Alo Dokter, dr. Tirtawati Wijaya, SE menjelaskan fenomena minum setelah makan bagi kesehatan. dr. Tirtawati menjelaskab bahwa waktu minum terbaik ialah saat kamu merasa haus, memakan makanan yang kering, dan menyantap hidangan yang pedas.

Baca juga: Makanan Sebelum Olahraga: 5 Pilihan Terbaik untuk Performa Maksimal

Selanjutnya, minum air setelah makan tidak baik jika menimbulkan rasa kembung hingga nyeri ke ulu hati. Hal tersebut dapat menyebabkan makanan yang sudah tercampur asam dapat terdorong naik kembali. Selain itu, dilarang apabila dapat membuat kamu menjadi cepat kenyang, terutama bagi anak-anak.

dr. Tirtawati menjelaskan larangan minum setelah makan dapat menyebabkan asam lambung hanyalah mitos belaka. Hal tersebut karena sekresi lambung dapat menyesuaikan keasaman di dalam lambung secara otomatis.

Adapun, beberapa manfaat yang diberikan saat minum setelah makan adalah melancarkan pencernaan, mencegah sembelit, mengendalikan nafsu makan, mencegah sembelit, serta mengontrol asupan kalori.

Ada juga studi dari Journal of clinical and diagnostic research menjelaskan bahwa, minum air  sebanyak 500 setelah makan dapat meningkatkan metabolisme pencernaan hingga 24 kalori.

Namun, efek tersebut tidak terjadi ke semua orang. Itu karena menyesuaikan dengan kondisi kesehatan dan tubuh masing-masing individu.

Setelah memahami penjelasan tersebut, alangkah lebih baiknya untuk tetap bertanya dan konsultasi kepada dokter untuk mendapatkan informasi yang lebih valid.