Sisi News

Grup Bakrie merupakan salah satu perusahaan konglomerasi asal Indonesia yang memiliki banyak bidang usaha. Mulai dari perkebunan, pertambangan, manufaktur, properti, hingga kendaraan listrik.

Konglomerasi bisnis yang dimiliki Grup Bakrie, mengantarkan Aburizal Bakrie sebagai orang terkaya di Indonesia ke-9, sebagaimana dikutip dari Forbes pada tahun 2008.

Setelah memutuskan terjun ke dunia politik, ‘lambat laun’ nama Aburizal hilang dari jajaran orang terkaya di dunia. Sejumlah persoalan muncul menerpa Grup Bakrie.

Mulai dari utang usaha yang jumlahnya besar, PHK besar-besaran, hingga kasus lumpur Lapindo yang menyeret keluarga Bakrie.

Salah satu perusahaan yang terkena imbasnya adalah PT. Bumi Resources Tbk. (BUMI) yang dikenal sebagai perusahaan yang memiliki tambang batubara terbesar di Indonesia melalui Kaltim Prima Coal.

Di saat harga batubara sedang booming sekitar tahun 2006 – 2008, harga saham BUMI sempat menyentuh level Rp8.300. Namun di sisi lain, utang perusahaan yang dikendalikan keluarga Bakrie mtersebut juga ikut naik hingga nilainya mencapai puluhan triliun.

Hal itu menyebabkan harga saham BUMI sempat menyentuh Rp50 selama beberapa tahun. Puncaknya pada tahun 2017, perusahaan yang berdomisili di Jakarta tersebut harus melakukan restrukturisasi.

Perlahan induk usaha dari Bumi Resources Mineral (BRMS) tersebut bangkit dari keterpurukan dengan berbagai cara. Mulai dari melakukan konversi utang menjadi saham, private placement, hingga meningkatkan kinerja perusahaan.

Salah satu yang membantu BUMI tetap bertahan di tengah sentimen negatif ialah masuknya keluarga Salim menjadi salah satu pemegang saham BUMI. Lewat Mach Energy Hong Kong Ltd. keluarga Salim memiliki sekitar 45,78% saham BUMI dengan nilai sekitar Rp1,4 triliun.